Rabu, 03 Agustus 2022

Mengenal Musuh Alami Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens)

Pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Wereng batang cokelat mempunyai banyak musuh alami yang berupa parasitoid, predator, patogen. Umumnya musuh alami ini mampu mengendalikan perkembangan populasi wereng batang cokelat (WBC). Penggunaan insektisida yang sembarangan dapat membunuh musuh-musuh alami tersebut, sehingga WBC akan meningkat pesat populasinya yang dikenal dengan istilah resurgensi.

Berbagai predator seperti laba-laba Lycosa sp, kumbang Ophionea nigrofasciata, dan kumbang tomcat Paederus fuscipes memangsa nimfa dan imago wereng cokelat. Telur wereng batang cokelat juga banyak dimangsa oleh kepik predator Cyrthorinus lividipennis.

  Musuh alami adalah mahluk hidup yang berguna untuk mengendalikan populasi hama. Ada beberapa musuh alami utama dalam mengendalikan WBC pada tanaman padi yaitu OPMSC (Ophionea nigrofasciata, Paederus fuscipes, Micraspis sp, Spider dan Cyrthorinus lividipennis).

1. Ophionea nigrofasciata

Kumbang tanah dewasa atau sering disebut Carabidae mempunyai tubuh keras dan aktif, dengan panjang sekitar 2-6 cm , berwarna coklat mengkilap gelap untuk metalik hitam, biru, hijau, ungu, atau multi-warna. O.nigrofasciata berbeda dalam bentuk, tubuh memanjang, kepala meruncing dengan antena benang, dan memiliki penutup sayap bercincin serta alat mulut mengunyah.

Gambar Ophionea nigrofasciata

Larva hitam mengkilat dan imago merah kecoklatan dengan strip hitam berbintik putih 4 bintik, memangsa ulat/ larva penggulung daun 3-5 larva/hari. Kumbang dewasa juga memangsa wereng. Pupa ada di dalam tanah pada lahan basah atau kering.

Serangga ini tertarik pada cahaya. Kepala mereka biasanya lebih kecil dari dada mereka. Kumbang tanah dewasa dan larva memiliki rahang pincher yang kuat. Serangga ini memiliki kaki panjang dan menonjol sehingga dapat bergerak cepat. Sebagian besar spesies aktif di malam hari dan bersembunyi siang hari di celah-celah tanah, di bawah batu, kayu membusuk, sampah daun, atau bahan kompos. 

Kumbang tanah hidup di dalam tanah. Pengembangan dari telur ke tahap dewasa membutuhkan waktu sekitar satu tahun, meskipun kumbang dewasa dapat hidup 2-3 tahun atau lebih. Predator Ophionea nigrofasciata hanya memangsa 1,79 ekor WBC per hari (Shepard et al, 1987).

2. Paederus fuscipes ( Tomcat)

Sering disebut dengan tomcat atau Paederus fuscipes (dalam bahasa Inggris dinamai rove beetles atau kumbang penjelajah) termasuk ordo Coleoptera dan famili Staphylinidae. Kumbang ini memiliki lebih dari 622 spesies (Singh dan Ali, 2007), salah satu di antaranya terdapat di Indonesia, yaitu Paederus fuscipes Curtis (Kalshoven, 1981). Kumbang yang telah lama dikenal masyarakat sebagai semut kanai atau semut kayap.

Gambar Paederus fuscipes

Kumbang tomcat berukuran panjang 7-10 mm dan 0,5 mm. Tubuhnya ramping dengan ujung bagian perut (abdomen) meruncmg, dada (thorax) dan perut bagian atas berwarna merah muda hingga tua, serta kepala, sayap depan (elytra), dan ujung perut (dua ruas terakhir) berwarna hitam. Sayap depannya pendek, berwarna biru atau hijau metalik bila dilihat dengan kaca pembesar. Sayap depan yang keras menutupi sayap belakang dan tiga ruas perut pertama. Sayap belakang digunakan untuk terbang. Meskipun dapat terbang, kumbang lebih suka berlari dengan gesit.

Setelah dewasa, kumbang keluar dari dalam tanah kemudian hidup pada tajuk tanaman untuk mencari mangsa yang umumnya adalah kelompok serangga hama. Perkembangan dari telur menjadi dewasa berlangsung 13-19 hari (Singh dan Ali, 2007). Lama hidup serangga betina 113,8 hari dan serangga jantan 109,2 hari. Seekor kumbang betina mampu menghasilkan telur 106 butir selama hidupnya.

Kemampuan kumbang tomcat memangsa wereng batang coklat rata-rata 7,3; 7,5; 4,2; 3,2; dan 2,3 ekor masing - masing untuk instar l, 2, 3, 4, dan 5. Kelompok burung merupakan predator bagi larva dan kumbang tomcat.

Kumbang tomcat aktif pada siang hari dan tertarik cahaya terang pada malam hari. Sifat inilah yang diduga memicu masuknya kumbang ke pemukiman, selain karena berubahnya habitat tomcat. populasi kumbang meningkat pesat pada akhlr musim hujan (Maret dan April), kemudian dengan cepat berkurang seiring munculnya cuaca kering pada bulan-bulan berikutnya.

3. Kepik mirid (Cyrtorhinus lividipennis)  

Cyrtorhinus lividipennis Reuter termasuk predator dari ordo Hemiptera yang merupakan musuh alami penting dalam menekan populasi wereng batang coklat (Nilaparvata lugens), wereng punggung putih (Sogatella furcifêra), dan wereng hijau (Nephotettix virescens) di pertanaman padi (Wheeler, 2001).

Gambar Cyrtorhinus lividipennis

Imago kepik predator berwarna hijau, pada bagian  kepala dan ujung sayap berwarna hitam dengan panjang badan 3-4 mm (Westen 1979). Kepik predator betina biasanya berukuran lebih besar dibandingkan predator jantan. Pada bagian ujung abdomen kepik betina terdapat ovipositor berbentuk bulan sabit dan apabila dilihat dari arah ventral terlihat seperti garis tebal memanjang dan berwarna cokelat gelap. Nimfa C. lividipennis berwarna hijau muda dan stadium perkembangan serangga melalui empat kali pergantian kulit. Pada bagian dorsal abdomen nimfa instar  terakhir terdapat dua bintik cokelat yang terletak berdampingan.

Lama perkembangan stadia telur berkisar antara 6-9 hari, stadia nimfa 10-17 hari (lama perkembangan setiap instar antara 2-3 hari), lama hidup imago betina 5-21 hari dan lama hidup imago jantan 7-25 hari (CAB International 2005). Nimfa dan imago C. lividipennis dapat memangsa semua stadium perkembangan wereng batang coklat. Chiu (1979) menyatakan bahwa C. lividipennis lebih banyak memangsa telur daripada nimfa wereng. Jumlah telur yang dimangsa oleh seekor imago betina, jantan dan nimfa instar tiga C. lividipennis benurut-turut adalah 10-20 telur/hari, 3-18 telur/hari, dan 6 telur/hari. Di samping keterbatasan efektivitas pemangsaan, kemampuan pemencaran dan berkembang biak C Lividipennis merupakan faktor yang dapat membantu penekanan populasi WBC pada pertanaman padi. Keberadaan kepik ditentukan oleh kemampuannya untuk bertahan hidup saat telur dan nimfa wereng batang  coklat tidak ada di lapangan (Wheeler 2001). Bentur & Kalode (1987) dalam Wheeler (2001) menyatakan bahwa sebagai obligat, C. lividipennis memerlukan mangsa untuk bertahan hidup dan ketiadaan mangsa dapat  menyebabkan kanibalisme terhadap sesama individu plædator. Kepik predator C. lividipennis bersifat polifag dan  aktif pada siang hari. Song & Heong (1997) melaporkan bahwa tingkat penyerangan dan penanganan C. lividipennis terhadap wereng batang coklat meningkat pada suhu 20 0 C sampai 32 0 C. Selain memangsa wereng batang coklat, kepik ini dapat hidup dengan memangsa serangga lain dan efektif digunakan sebagai pengendali hayati serangga hama.

4. Spider (laba-laba)

Laba-laba merupakan salah satu jenis musuh alami yang sering dijumpai pada pertanaman padi dan palawija setelah padi di lahan sawah irigasi. Laba-laba yang dikenal petani sebagai "Lycosa sp" ini bersifat generalis karena memiliki mangsa berbagai jenis serangga, terutama yang berstatus hama. Peranannya sebagai musuh alami dalam ekosistem pertanian sangat penting, bahkan diperhitungkan dalam pengambilan keputusan untuk pengendalian hama dengan penggunaan  insektisida.

Gambar Lycosa sp

Laba-laba mempunyai ukuran 7 - IO mm, merupakan hewan berbuku-buku, pada tungkai terdapat duri - duri yang  panjang dengan mata berbentuk segi enam. Matanya berwarna gelap (hitam), yaitu empat mata kecil pada deretan  pertama (anterior), dua mata besar pada deretan kedua, dan dua mata sedang pada deretan ketiga (posterior). Tubuh laba - laba ini relatif besar dan berwarna coklat tua.

Menurut Gavarra and Raros (1975), laba-laba betina membentuk kantong telur 1-10 hari setelah perkawinan. Telur  menetas kira-kira 10 hari kemudian. Seekor induk laba-laba betina dapat menurunkan 85 ekor laba-laba dewasa.

Daur generasi, dari telur hingga dewasa yang bertelur berlangsung 116 hari dan dari telur sampai dewasa hingga mati, berlangsung 264 hari. Populasi laba-laba dewasa di alam terdiri atas sekurang-kurangnya dua generasi. Perkembangan laba-laba muda menjadi dewasa melalui 6- 10 kali pergantian kulit, pada yang betina sebanyak 8-9 kali dan pada yang jantan 7-8 kali.  

Laba-laba tidak membuat sarang sebagai perangkap, tetapi menyerang mangsanya secara langsung, sehingga tergolong laba-laba buas (wolfspider). Kemampuan laba-laba memangsa nimfa dan imago wereng coklat 5-15 ekor/hari (Shepard et al. 1987). Namun demikian, berbagai pilihan jenis mangsa tersebut dapat menjamin perkembangan populasi Lycosa sp di lapang. Lycosa dapat dinyatakan sebagai pemangsa efektif karena kemampuan berbiaknya tinggi.

5. Micraspis sp

Kumbang Micraspis sp. ini sangat berlimpah selama masa primordia dan wabah wereng batang coklat. Konsumsi tertinggi rata-rata/ hari pada waktu kumbang menjadi larva/ instar empat. Namun, karena umur micraspis panjang, sehingga konsumsi tertinggi pada tahap dewasa.

Gambar Micraspis sp

Micraspis sp memakan wereng batang coklat pada tanaman padi dan serangga kecil lainnya . Kumbang yang melimpah di sawah akan mernbantu menekan populasi beberapa hama serangga. Tetapi karena Micraspis sp memakan serbuk sari tanaman padi, banyak petani menganggap mereka hama dan sering disemprot insektisida.

Sumber : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah

Artikel terkait : 

Tanaman Padi Terserang Wereng Batang Coklat ? Begini Cara Pengendaliannya


 

Selasa, 02 Agustus 2022

Tanaman Padi Terserang Wereng Batang Coklat ? Begini Cara Pengendaliannya

 Wereng batang coklat (Nilaparvata  lugens  Stal)merupakan hama yang menyerang pertanaman padi dengan cara menghisap cairan tanaman sehingga tanaman menjadi kering seperti terbakar dan biasa disebut hopperburn. Wereng batang coklat dapat berkembang biak dengan cepat dan cepat menemukan habitatnya serta mudah beradaptasi.

Wereng batang coklat

Karakteristik WBC

WBC berukuran kecil, nimfa yang baru menetas berukuran < 1 mm dan dewasa ± 3 mm. Hidup dan menghisap cairan tanaman di bagian pangkal batang/pelepah tanaman. Apabila populasi tinggi WBC sampai di daun terutama dewasa bersayap panjang.  Nimfa kecil berwarna putih dan semakin tua berubah menjadi kekuning-kuningan, coklat muda akhirnya menjadi coklat/coklat tua.

WBC mampu beradaptasi terhadap pergantian varietas tahan, dengan membentuk biotipe ataupun koloni baru yang lebih ganas. WBC dewasa mempunyai dua bentuk sayap, yaitu dewasa sayap panjang (makroptera), dan dewasa sayap pendek (brakhiptera).

Bentuk makroptera merupakan indikator populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakhiptera merupakan populasi penetap yang biasanya menghasilkan keturunan yang menyebabkan kerusakan tanaman.

Populasi WBC dapat meningkat lebih tinggi dengan aplikasi insektisida yang tidak bijaksana (tidak memenuhi kaidah 6 tepat) karena dapat mengakibatkan resistensi (hama menjadi kebal) dan resurjensi (populasi menjadi berkembang lebih cepat terutama karena musuh alaminya musnah.

Bagaimana cara mengendalikannya ?

1. Lakukan gerakan tanam serempak.

Salah satu manfaat tanaman serempak adalah memutus rantai hidup serta makanan bagi hama penyakit tanaman. Umumnya apabila hama penyakit menyerang pertanaman, dia akan menularkan ke pertanaman lainnya karena masih tersedia inang di sekitar. Tetapi jika semua tanaman padi ditanam serempak dan dipanen bersamaan, maka tidak ada lagi inang dan makanan bagi hama penyakit untuk bertahan hidup karena setelah itu umumnya lahan akan diberakan (dibiarkan sementara waktu) atau berganti menjadi komoditas lain seperti palawija.

2. Melakukan sanitasi lingkungan dengan meniadakan singgang, ratun atau sisa tanaman dari musim sebelumnya.

3. Olah tanah dengan baik agar sisa jerami di sawah dapat mengalami pembusukan dengan sempurna.

4. Menggunakan VUB tahan WBC (inpari 13, 18, 19, 31 dan 33).

5. Persemaian dilakukan setelah kondisi lingkungan bersih dari sisa tanaman sebagai sumber inokulum.

6. Pasang lampu perangkap serangga di sekitar pertanaman untuk memonitoring keberadaan serangga hama.

7. Monitoring ketat dan intensif keberadaan hama mulai dari persemaian.

8. Rekayasa ekologi dengan penanaman tanaman refugia sebagai tempat berkembang biaknya musuh alami hama.

Refugia

Pengendalian  biologis dengan  memanfaatkan musuh alami merupakan salah satu langkah dalam pengelolaan agroekosistem. Pengendalian ini merupakan  alternatif pengendalian yang paling aman dan sangat direkomendasikan. Meskipun dampaknya dirasakan dalam jangka waktu yang lama, namun akan mampu menjaga keseimbangan ekosistem. Konservasi  musuh alami dan habitat pendukungnya berarti mencegah berkurangnya populasi dan potensi predator dan parasitoid, dengan cara mengembangbiakkan parasitoid dan predator secara alami serta meningkatkan  perannya dalam mengendalikan hama.

9. Lakukan monitoring secara intensif minimal 1 minggu sekali untuk mengetahui populasi serangga hama.

10. Dilakukan penyemprotan jamur entomopatogen seperti Metarhizium atau Beauveria untuk mencegah terjadinya lonjakan populasi serangga hama.

11. Tindakan pengendalian ditentukan berdasarkan ambang batas per tanaman (vegetatif 3-5 ekor WBC/rumpun padi, generatif 8-10 ekor WBC/ rumpun padi).

12. Alternatif terakhir jika terjadi ledakan hama WBC adalah penggunaan insektisida berbahan aktif Pymentrozine dan Dinetofuran dengan dosis 350 - 500 liter/ ha.

Insektisida masih banyak digunakan untuk pengendalian WBC maupun hama padi lainnya. Sudah sangat dipahami bahwa penggunaan insektisida yang tidak tepat menyebabkan berbagai dampak yang tidak diinginkan, diantaranya resistensi dan resurjensi. Hasil penelitian sudah banyak yang mendokumentasikan kemampuan populasi WBC untuk menjadi tahan terhadap berbagai jenis insektisida. Insektisida sama yang dipakai secara terus menerus akan menyebabkan munculnya populasi yang resisten (tahan) terhadap insektisida dalam waktu yang relatif  singkat.


Senin, 21 Maret 2016

Kendalikan Penggerek Buah pada Kakao dengan Umbi Gadung

Penggunaan pestisida akan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan produk perkebunan. Untuk menghasilkan produk perkebunan yang mencukupi maka setiap gangguan hama dan penyakit (OPT) harus dilakukan secara bijaksana, apalagi pada era pertanian yang sehat (back to nature) yang lebih mementingkan produk berkualitas dan bebas dari cemaran, baik hayati maupun kimia. Produk perkebunan yang sehat dan ramah lingkungan sudah merupakan tuntunan pasar global (AFTA, APEC, dan WTO), dengan label ramah lingkungan (eco-labeling attributes), bernutrisi tinggi (nutritional attributes), dan aman dikonsumsi (food safety attributes). Sumber utama cemaran pada produk perkebunan adalah bahan pestisida sintetik / kimia.

Bahaya Pestisida Kimia

Masalah besar yang dihadapi petani dalam kegiatan produksi adalah hama penyakit tanaman (OPT). Untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman petani menggunakan pestisida kimia. Pemakaian pestisida kimia berdampak hama menjadi kebal (resisten) dan memicu timbulnya peledakan hama baru (resurjensi). Selain itu musuh alami yang seharusnya berperan mengendalikan hama ikut terbunuh.

Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, hal ini disebabkan pestisida bersifat polutan dan menyebarkan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh seperti mutasi gen dan gangguan syaraf pusat. Disamping itu residu kimia yang beracun tertinggal pada produk pertanian dapat memicu kerusakan sel, penuaan dini dan munculnya penyakit degeneratif.

Karena bahaya yang ditimbulkan, maka pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan tentang perlindungan tanaman dengan menggalakkan program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 1995 menyatakan bahwa pemanfaatan agens pengendali hayati atau biopestisida termasuk pestisida nabati sebagai komponen utama dalam sistem PHT.

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman atau tumbuhan yang sebenarnya ada di sekitar kita. Penggunaan pestisida nabati selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, harganya relatif murah apabila dibandingkan dengan pestisida kimia. Pestisida nabati ini bisa berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh, dan bentuk lainnya. Secara umum, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas.

Karena terbuat dari bahan alami atau nabati, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam, sehingga tak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan, karena residu (sisa-sisa zat) mudah hilang.Indonesia ada banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati. Bahan dasar pestisida alami ini bisa ditemui di beberapa jenis tanaman, dimana zat yang terkandung di masing-masing tanaman memiliki fungsi berbeda ketika berperan sebagai pestisida.

Serangan Penggerek Buah pada Tanaman Kakao (PBK)

Kakao (Theobroma cacao) merupakan tumbuhan berwujud pohon yang berasal dariAmerika Selatan. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat Namun keberadaan hama Penggerek buah (Conophomorpa cramerella) pada tanaman kakao ternyata sangat merugikan petani. Di beberapa daerah sentra tanaman kakao, biji yangdihasilkan rusak karena serangan PBK dapat mencapai 80%. Artinya dari1 kg hasil panen hanya 2 ons kakao yang bisa diambil hasilnya. Bisa kita bayangkan bila produksi kita sekitar 100 ton, tentu saja yang bisa kita dapatkan hanya 20 ton saja.



Buah kakao yang mendapatkan serangan PBK terus dapat berkembang seolah-olah tidak terjadi serangan, sehingga buah yang terserang seperti tidak ada perbedaan dengan buah kakao yang sehat. Gejala baru tampak dari luar setelah matang di musim panen, buah kakao yang terserang berwarna agak jingga atau pucat keputihan, buah menjadi lebih berat dan bila diguncang tidak terdengar suara ketukan antara biji dengan dinding buah. Hal itu tejadi karena timbulnya lendir dan kotoran pada daging buah dan rusaknya biji-biji di dalam buah.

Atasi Penggerek Buah Kakao dengan Umbi Gadung

Umbi gadung (Dioscorea hispida Dennst) bukan hanya berfungsi sebagai makanan akan tetapi juga mulai dimanfaatkan sebagai insektisida nabati.  Menurut para peneliti umbi gadung ternyata mengandung dioskorin salah satu alkaloid yang bersifat racun bagi serangga, ulat, cacing (nematoda) bahkan juga tikus.


Cara pembuatan pestisida nabati umbi gadung cukup sederhana :
1.      Parut 100 gram umbi gadung yang sudah dikupas
2.   Rendam dalam 1 liter air selama 2 hari.
3.      Saring dan diencerkan menjadi 10 liter air ekstrak gadung.
4.      Tambahkan sepucuk sendok sabun colek sebagai perata dan siap diaplikasikan

Cara Aplikasi

    Cara aplikasi di lapangan dengan menyemprotkan pada seluruh kanopi tanaman terutama pada daun/pucuk secara merata. Aplikasi dilaksanakan pagi hari sebelum matahari terbit untuk hasil lebih bagus. Aplikasi diulangi seminggu sekali sebanyak 3 kali.

Pestisida dari umbi gadung terbukti efektif untuk menurunkan serangan PBK. Dari kegiatan
pengendalian penggerek buah pada tanaman kakao yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY tahun 2014 di Ngentak, Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo didapatkan hasil serangan PBK mengalami penurunan sebesar 30 %.

Kegiatan Pengendalian dengan pestisida gadung ini masih terus dilanjutkan untuk mengatasi serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) pada tanaman lain. Pada bulan Maret tahun 2016 ini kegiatan pengendalian dengan umbi gadung difokuskan untuk mengatasi Helopeltis sp (kepik penghisap buah ) pada tanaman jambu mete di Mojolegi, Karangtengah, Imogiri, Bantul.

Dengan penggunaan pestisida nabati ini biaya penanggulangan hama yang selama ini menjadi salah satu pengeluaran yang memberatkan petani dapat dikurangi, resiko kegagalan produksi dapat ditekan, petani tidak lagi bergantung pada pestisida sintetik dan dampak buruk terhadap lingkungan juga dapat dicegah.

Balai Sertifikasi Pengamatan Mutu Benih dan Proteksi tanaman Kehutanan dan Perkebunan (BSPMBPTKP) Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY bertekad untuk mewujudkan Misinya yaitu Meningkatkan pelayanan perlindungan tanaman dengan memanfaatkan sumberdaya alam hayati untuk mempertahankan kelestarian ekosistem dan mendorong tumbuh kembangnya partisipasi masyarakat dalam perlindungan tanaman yang terpadu dan berkelanjutan